Ketika itu kami masih SMP, kali pertama kulihat dia. Putih, bulat, penuh, padat, dan berisi. Dan kurasa..... tentunya dia pintar, ya secara axel gitu ya. Satu lagi, lucu. Ya, jujur dia lucu sekali. Ingin rasanya ku bawa pulang untuk disiksa *gadeeng*. Ya, itulah kesan pertamaku padanya.
"Siapasih lo? Kenapasih lo? Lo siapa? Mata-mata? Oh yeah, that's true! Dia mata-matanya seseorang --> ****r. Hmm okey. Pantas saja rasanya kok gua jadi pengen mengamati lo." itulah kesan saat kelas 10.
Kelas sebelas, kita sekelas. Hmm mulut gak bisa dijaga, kelakuan juga. Sering kali perkataan dan perbuatannya kelewat batas, ga sadar kalau itu semua berpotensi menyakiti orang lain. Hobinya nyiksa orang, akupun tak luput jadi sasaran. Kalo gua bukan anak j***s (gak ngaruh kayaknya, ralat deh). Kalo gua ga ada hubungan sama ketua j***s, udah jadi rempeyek crispy kali gua tiap hari digoreng. Itu jari apa palu, tiap hari nancepin paku ghoib di bahu gua ;'(. Kebiasaan: "Mau macem-macem lu sama Nanda? Tiati pala lu ilang." --> Kata: 'Tiati pala ilang' sungguh khas Jumintem.
Last grade. Pasca dia tau gua 'selesai' dari youknowlah, dia makin rajin nancepin paku ghoib di bahuku. Haruskah aku berpcrnan dengan *minimal* anak menteri agar dia berhenti menyakitiku? Makin hari makin bacot, sampai akhirnya dia menang angket terbacot. Seneng ngga ya....... HAHAHA! Gua ngerti kok, congor lu emang satu-satunya perkakas lu buat membela diri (pantat jumbo disia-siakan). Kelas 12 dia mendadak jadi orang sok sibuk sok penting (bisikan halus yg bilang), sampai akhirnya dia jadi orang sibuk dan penting beneran. Itu terjadi di detik-detik terakhir masa kejayaan kami. Dia jadi koordinator perang. Hehe paham kan?
And then, time goes by so fast. Dimasa-masa fokus SNMPTN, dia berubah jadi 'Informan Jahil nan Usil'. Mau nanya apa aja sama dia pasti tau. Entah bagaimana prosesnya, tau-tau aku jadi suka curcol sama dia. Makin hari aku makin ngerti kenapa dia begini, kenapa dia begitu. Pantas saja dia tau tentang segalanya, karna dia memang mau tau dan mencari tau tentang segalanya.
Terima kasih atas segala saran dan masukannya. Terima kasih sudah menemaniku ditengah resah dan gelisahku. Terima kasih karna kau telah menunjukkan sisi baikmu padaku, hingga akhirnya mungkin suatu saat nanti kau bisa meninggalkan kesan baik di akhir kebersamaan kita.
Jangan lupakan gua ya, Jumintem.
Salam pantat,
nandams